Batagor Terakhir #1: Sarapan Pagi Terguncang


PERINGATAN: banyak adegan kekerasan (violence) sehingga bagi yang tidak kuat disarankan tidak melanjutkan membaca.

Prolog 

Terinspirasi dari kisah penyerangan teroris di Mako Brimob pada tahun 2018 lalu, dan beberapa kasus terorisme yang sudah terjadi di Indonesia, Saelz mencoba menuliskan sebuah novel bertema besar terorisme perang (perang bersenjata, ancaman terhadap sipil, dsb) dan pemberantasannya. Harapannya kita bisa belajar bagaimana sebuah kasus terorisme yang begitu kejam bisa diselesaikan. Cukup banyak film Barat yang membahas terorisme terhadap sipil seperti The Dark Knight Rises, Skyfall, dan banyak film superhero yang menyelamatkan suatu wilayah dari ancaman yang tak pandang bulu. 

Gue mau membuat versi lokal dengan menjaga detak jantung dan getaran kaki pembacanya dalam setiap edisinya. 

Mohon maaf di beberapa bagian ceritanya sangat sadis, seperti pembunuhan, pertumpahan darah, penggunaan senjata perang, sehingga bagi yang berumur di bawah 18 atau tidak kuat disarankan tidak usah membaca sampai akhir. Namun begitulah terorisme, kejam dan menakut-nakuti tak hanya pada saat ledakan, namun juga saat beritanya menjadi bahan bacaan.

Jangan sampai NKRI jatuh ke tangan teroris, siapapun itu!

***

Minggu malam, segerombolan orang terlihat di dekat pertigaan arah RSCM, rumah sakit kenamaan milik pemerintah. Mereka ditutupi topeng dan berpakaian coklat. Kardus-kardus diturunkan dari sebuah bus pariwisata, yang setelah dibuka berisikan sesuatu yang akan mengacaukan pagi harinya. Ibu-ibu yang melintas di dekat bus tersebut menyeletuk, “kok seperti bau rumah saya waktu dirampok ya?”. Tak lama, ia berlari ketakutan karena sudah curiga akan aksi gerombolan itu.

Tiga orang yang baru turun dari stasiun LRT UI Salemba langsung balik kanan kembali naik ke stasiun karena melihat isi dari kardus-kardus tersebut sedang dibuka. “Pak, ada yang bawa senapan di lantai bawah,” teriak seorang anak muda yang baru pulang les Bahasa Inggris di Kelapa Gading. Pegawai dan satuan keamanan LRT langsung menelepon polisi, dan seketika itu juga suara mengiung memecah kesepian di kolong jalur tol-bus-LRT itu. Terlihat beberapa orang kalang kabut berlarian ke arah Cikini.

Namun rombongan berpakaian coklat itu sudah lama menghilang. Polisi sudah berkerumun nyaris di mana-mana. Dikabarkan setiap stasiun LRT, kereta api – KRL, dan MRT sudah dijaga orang. Temuan senjata dan peluru di mana-mana, bahkan polisi juga menemukan replika. Namun tak ada satupun yang mengindikasikan terjadinya serangan.

Mobil hitam yang beredar di sekitar UI sudah bergerak ke Galur. Seseorang berpakaian coklat tersebut mengacungkan jari tengah ke arah polisi, sambil tersenyum. “Besok kita akan buat kejutan bagi orang-orang itu. Masukkan mereka ke neraka beserta pengikutnya!” Polisi tidak melihat mereka, sehingga tidak ada bentrok apapun di malam itu. Namun malam lain belum tentu terjadi.

***
Pagi itu Stasiun Matraman sepi. Hari itu seakan-akan tidak ada yang berangkat kerja. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB. Tentara dari berbagai kesatuan berdatangan. Terlihat satu dua orang berjalan dengan muka gemetar, bahkan ada ibu-ibu pingsan sekejap setelah melihat aplikasi media sosial. Di telepon genggam itu terlihat, foto orang berlumuran darah di Salemba.
“Jangan diteruskan! Cukup sampai di sini!” tulis seorang wanita yang merupakan teman si ibu yang pingsan itu. Ia bermaksud mencegah pesan-pesan kekejian tersebut menyebar sampai ke lain telepon genggam, yang membuat aksi terorisme itu berhasil. Ibu yang pingsan tersebut akhirnya ditolong oleh petugas keamanan.

Tak jauh dari situ, terlihat orang dari maskapai kereta api sedang memasang detektor. Jalur menuju stasiun kereta ringan (LRT) juga dipagar, pertanda operasional LRT dihentikan pagi itu. Penumpang dari seantero Bodetabek terduduk lemas, sambil menanti kereta balik yang entah ada atau tidak. Dan tak lama, kereta balik baik ke arah Bekasi ataupun arah Cililitan datang. Tak wajar sekali kereta balik berdesakan seperti layaknya kereta sore hari, sampai tiga empat kali kereta datang tetap ada yang tidak bisa naik.

Terdengar suara keras dari situ, ternyata dua orang yang lama tak bertemu. “El lu jangan ke Salemba, jangan berangkat kerja anjir El, semua orang udah balik! Sekarang Salemba ditutup!” Sementara itu, yang diteriaki sedang asyik mengunyah sarapan di restoran cepat saji yang ada di stasiun. Invoice yang akan diserahkan ke kantor dituliskannya “Sael”, dan ini mungkin invoice istimewa yang dipegang Sael, salah satunya karena tetes darah temannya meluber ke struk. Tangannya terbaret ujung tangga saat terburu-buru lari ke lantai dua stasiun.

“Lari jangan buru-buru anjir,” kata Sael. Amplop berisi buku modul dengan tulisan “Kenneth” yang seharusnya dibawanya ke kantor jatuh, tak lama juga jaket di tangan Kenneth jatuh. “Udah ikut gue lari, buruan!” tukas Kenneth. Sael masih bersikeras menuju ke kantor dan keluar dari stasiun, sambil membawa makanannya dan dimakan sambil berjalan. Ia tergesa-gesa, melihat jam kantor sebentar lagi tiba dan Sael tetap harus mengantar dokumen penting tersebut ke salah satu gedung di Senen. terus membujuk Sael, dengan menarik-narik tangannya, menarik baju dan tasnya, dan pada puncaknya ketika Sael lari....

“SAEEEELLLLLL!” teriak Kenneth, tanpa rasa segan. Ia menangis, namun ia juga sadar bahwa ia harus menyelamatkan diri karena banyaknya dokumen yang dibawa. Kenneth naik ke lantai paling atas Stasiun Matraman, hendak menyelamatkan diri ke rumah saudaranya di Bogor. Kereta datang, dan dua sahabat dari kuliah tersebut terpisah.

Sementara itu, Sael terus berlari tanpa terpikir apa yang akan terjadi. Namun di sekitar Sael sudah ada anggota pasukan khusus, dan anggota Densus 88. “Ngapain Densus ke sini? Tumben bener?” Sael juga melihat orang-orang berlarian dan berhamburan ke dalam stasiun. Ia hampir jatuh terdorong. “Lah kenapa orang-orang kabur? Kenapa mobil-mobil nggak ada?” Namun tekadnya mengantarkan dokumen ke Pak Irfan – yang sangat penting bagi perusahaan – begitu bulat, sampai mengalahkan ketakutannya. Apalagi Sael terkenal di kantor sebagai orang paling taat absen, tidak pernah sekalipun terlewat dia.

Ternyata peringatan itu bukan tanpa alasan. Kunyahan terakhir Sael tersebut diakhiri dengan bau mesiu yang menyeruak dari arah lantai dasar. Suara mengaduh merentet hingga ke Jakarta Timur. Sael tetap berjalan ke halte Transjakarta yang ada di kolong stasiun. Ketika Sael datang, halte tersebut dibombardir peluru dari arah perkampungan. Granat dilempar ke tengah perkampungan. Di depan mata Sael, seorang wanita kantoran terhunus peluru di kepalanya. Sael menggendong wanita tersebut dan bergegas menutupi lukanya yang semakin hari semakin membanjir. Tak lama kemudian, bus Transjakarta Koridor 5 tujuan Ancol datang. Seluruh penumpang berlarian, termasuk Sael dan seorang pria dengan kartu nama “Fikri Hidayat” yang menggendong temannya, berseragam kantor, yang kakinya tertembak.

Busway segera melarikan diri karena sadar kondisi tak kondusif. Halte Matraman Jembatan kosong. Orang-orang panik berlarian. Warung-warung kosong. Tak lama kemudian, jembatan peninggalan Belanda di Jalan Matraman meledak. Jaringan komunikasi disabotase dan dilumpuhkan, sehingga saat Sael tengah menelepon bosnya – dengan wanita bernama Michelle masih di pangkuannya – tiba-tiba jaringan telepon terputus. Tidak ada jaringan sama sekali.

Bus merambat cepat menyusuri koridor, dengan tiba-tiba terdengar instruksi “Tabrak Pak!” dari HT pegawai busway. Bus menabrak seseorang yang diduga bagian dari penyerangan di pagi itu, tepat ketika bus mendekati prapatan gabungan flyover-underpass di Matraman. Jalur layang tersebut ditutup, hanya Transjakarta diperbolehkan melintas. Tiba-tiba jaringan seluler kembali muncul. Tiba-tiba HP Sael terdengar begitu bising – tak lama setelah korban tembak yang dipangku Sael sudah dibawa petugas medis di salah satu halte.

Ternyata telepon dari sang sahabat datang. “Halo Ken, lu selamat nggak? Tadi gue lihat suara ledakan persis di belakang lu!” teriak Sael. “Selamat kok, tadi pas jalurnya meledak gue udah sampai Manggarai. Ini udah mau dekat ke Tanah Abang. Di sini nggak kenapa-kenapa, cuma orang-orang takut keluar El. Stay safe ya!” balas Kenneth.

Saat telepon masih tersambung, tiba-tiba di depan Sael terdengar suara seperti tabung gas diledakkan. Bukan hanya tabung LPG, tapi tabung gas nitrogen yang dilucuti dari laboratorium juga ikut meledak. Nyala api terlihat, dan seketika asap menutup busway. Pandangan menjadi terbatas. Dari HT terdengar suara mengaduh dan berteriak “Pak, masya Allah, jalannya rusak ini, busway nggak bisa lewat karena jalannya hancur! Udah kayak jalan di pedalaman Pak!”

“Halo, haloo?” Sael kesal karena sinyal telepon lagi-lagi putus di saat yang amat amat sangat krusial.

“Perjalanan tidak bisa dilanjutkan ya, jalannya tertutup, bisnya gak bisa lewat,” kata pengemudi Transjakarta. Semua melarikan diri. Kaca-kaca busway sengaja dipecahkan supaya keluar lebih mudah. Sael dan banyak penumpang berlarian, turun tidak di halte. Banyak orang mengikuti Sael masuk ke gang-gang pelosok ke timur jalan. Seseorang yang diduga gerombolan pengacau itu berjalan di mulut Jalan Paseban, menghampiri Sael yang tengah makan di warteg.

“Pak, nasi sama telor dadar sama tempe orek,” kata Sael. Tak lama pedagang mengembalikan Rp 2000 ke Sael. Jaringan komunikasi masih putus dan Sael belum tahu bahwa para penjahat sudah merusak tiang-tiang BTS yang bercantolan di atap-atap rumah di Paseban. Aplikasi peta online juga tidak berfungsi, bahkan cache yang ada di telepon genggam Sael sudah lenyap. Orang-orang di sekitar situ juga ikut menggerutu karena putusnya jaringan telekomunikasi.

Saat itu terasa seperti gencatan senjata. Suara dar der dor tiba-tiba sepi. Warteg yang ditinggalkan Sael dan sekumpulan orang lain akhirnya dipakai sejumlah orang untuk kasak-kusuk. Terlihat juga kucing berlarian panik – dari yang biasanya begitu betah berselonjor di kursi khusus untuknya di warteg. “Cek bawah, udah aman nggak?” kata pria misterius.

Dengan ketakutan, hampir semua orang yang masih terjebak di lorong-lorong Paseban segera mengikuti kucing-kucing dan anjing-anjing warga yang berlarian menuju rel. Operasional kereta api dihentikan sehingga stasiun pun menjadi seperti bunker bagi warga. “Tolong, tolong,” teriak sejumlah warga.

Tiba-tiba rel bergetar. Bunyi ledakan begitu nyaring memekakkan telinga. Hanya beberapa puluh meter dari Sael, banyak yang pingsan dan mengalami kehilangan pendengaran. Teman-teman Sael pun ada yang seketika terbujur kaku.

“Gila kuat banget bomnya ya Allah,” gumam Bu Hedy, sambil membereskan dagangannya dan memindahkan ke daerah pengungsian.

Comments